Bisnis.com, CIREBON - Bank Indonesia mencatat Kota Cirebon masuk dalam daftar lima besar kota dengan jumlah merchant Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) terbanyak di Provinsi Jawa Barat.
Berdasarkan data hingga triwulan I 2025, Kota Cirebon mencatatkan 362.352 merchant yang telah mengadopsi sistem pembayaran digital QRIS, menempatkan kota ini di posisi kelima setelah Kota Bandung, Bekasi, Bogor, dan Depok.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat Muhammad Nur mengatakan hal tersebut terjadi karena ada eningkatan aktivitas belanja daring selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri menjadi salah satu faktor pendorong tumbuhnya ekosistem digital.
"Selain itu, platform e-commerce di berbagai daerah, termasuk Cirebon, gencar menawarkan insentif berupa promo, diskon, hingga program cashback, sehingga mendorong masyarakat untuk bertransaksi secara digital," kata Muhammad Nur dalam Laporan Perekonomian Jawa Barat.
Menurut laporan Bank Indonesia, pada triwulan I 2025, jumlah transaksi e-commerce di Jawa Barat mencapai 254,77 juta atau tumbuh sebesar 29,58% (yoy).
Ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencatat 235,63 juta transaksi dengan pertumbuhan 26,59% (yoy).
Baca Juga
Dalam konteks ini, merchant QRIS menjadi tulang punggung dalam menyambungkan konsumen dengan pelaku usaha secara langsung.
Di Kota Cirebon, adopsi QRIS banyak dijumpai di sektor UMKM, toko ritel, kuliner, dan layanan jasa, terutama yang menjajakan produknya melalui marketplace dan media sosial.
Pertumbuhan jumlah merchant QRIS juga tak lepas dari semakin baiknya infrastruktur digital di Jawa Barat, khususnya di wilayah urban seperti Cirebon.
"Akses internet yang semakin merata dan peningkatan literasi digital masyarakat menjadi landasan kokoh bagi pelaku usaha untuk mengadopsi sistem pembayaran non-tunai," katanya.
“Transformasi digital bukan hanya terjadi di kota-kota besar. Di daerah seperti Cirebon pun, masyarakat mulai terbiasa dengan pembayaran menggunakan QRIS. Ini sejalan dengan strategi digitalisasi ekonomi daerah,” terang laporan Bank Indonesia secara umum.
Data juga menunjukkan peningkatan jumlah penjual daring yang tumbuh sebesar 12,96% (yoy) pada triwulan laporan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya yang sebesar 8,05%.
Ini mengindikasikan, makin banyak pelaku usaha kecil menengah mulai memanfaatkan kanal digital sebagai ruang dagang baru yang efisien.
Dari sisi jumlah merchant QRIS, Kota Bandung masih mendominasi dengan total 2.209.350 merchant, disusul Kota Bekasi (1.290.531), Kota Bogor (1.083.673), dan Kota Depok (547.744).
Di bawah Cirebon, terdapat Kabupaten Karawang (354.403), Kota Sukabumi (328.575), dan Kota Tasikmalaya (257.363).
Meskipun belum menyentuh angka satu juta, posisi Cirebon di peringkat lima besar menunjukkan potensi besar pengembangan ekonomi digital di kota pelabuhan ini. Ke depan, potensi Cirebon sebagai simpul ekonomi kawasan timur Jawa Barat akan semakin diperkuat oleh ekosistem digital yang inklusif.
Sementara itu, kabupaten yang masih berada di bawah dalam jumlah merchant QRIS adalah Kabupaten Garut dengan 217.759 merchant dan Kabupaten Bandung Barat dengan 192.265 merchant.
Meski pertumbuhan merchant QRIS di Kota Cirebon cukup menggembirakan, tantangan tetap ada.
Beberapa di antaranya mencakup edukasi terhadap pelaku usaha mikro di tingkat kelurahan dan desa, serta perlunya integrasi antara sistem pembayaran QRIS dengan platform dagang lokal yang belum sepenuhnya terdigitalisasi.
"Langkah pemerintah daerah bersama Bank Indonesia dan lembaga perbankan dalam mendorong literasi keuangan digital dinilai sudah cukup efektif. Ke depan, harapannya bukan hanya jumlah merchant yang bertambah, tetapi juga kualitas transaksi digital yang semakin meningkat," katanya.