Bisnis.com, CIREBON - Harga beras di pasaran Kabupaten Cirebon kembali mengalami kenaikan signifikan meski Badan Pangan Nasional (Bapanas) baru saja menetapkan aturan terbaru mengenai Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras medium dan premium.
Pantauan di sejumlah pasar tradisional pada Jumat (29/8/2025), harga beras premium yang sebelumnya berada di kisaran Rp14.500 hingga Rp15.000 per kilogram kini melonjak menjadi Rp16.000 per kilogram.
Sementara harga beras medium ikut terkerek naik menjadi Rp15.000 per kilogram dari sebelumnya Rp13.500 hingga Rp14.000 per kilogram.
Kenaikan harga tidak hanya terjadi di pasar tradisional. Di sejumlah ritel modern, harga beras premium kemasan lima kilogram kini dibanderol hingga Rp140.000 per karung.
Angka tersebut lebih tinggi dari harga acuan Bapanas yang menargetkan agar beras premium tetap berada dalam kisaran terjangkau bagi masyarakat.
Salah seorang pedagang beras di Pasar Pasalaran, Yati (46), mengatakan kenaikan harga sudah berlangsung sejak dua pekan terakhir. Menurutnya, lonjakan harga bukan semata disebabkan oleh pedagang, melainkan karena harga dari tingkat distributor dan penggilingan gabah juga meningkat.
Baca Juga
“Kalau kita ikut harga saja, dari agen besar sudah naik, jadi otomatis ke pembeli juga naik. Kita pedagang enggak bisa menahan terlalu lama, karena kalau dijual rugi ya sama saja. Sekarang premium paling murah Rp16 ribu per kilo, itu pun sudah banyak yang ngeluh,” ujar Yati, Jumat (29/8/2025).
Ia menyebut, kenaikan harga beras membuat daya beli masyarakat turun drastis. Sebagian pelanggan tetap membeli, tetapi jumlahnya dikurangi. Jika biasanya membeli 10 kilogram untuk kebutuhan satu keluarga, kini hanya sanggup membeli setengahnya.
“Dulu orang sekali belanja bisa bawa satu karung. Sekarang paling banyak setengah karung, bahkan ada yang cuma beli dua kilo buat harian. Kasihan, tapi memang semua serba mahal,” tambahnya.
Kenaikan harga beras ini menjadi pukulan berat bagi warga, khususnya kalangan menengah ke bawah yang sangat bergantung pada komoditas tersebut sebagai makanan pokok.
Siti (39), seorang ibu rumah tangga asal Kecamatan Weru, mengaku terpaksa mengurangi porsi pembelian beras demi bisa mengatur pengeluaran rumah tangga. Ia mengatakan, kenaikan harga beras membuat anggaran belanja semakin ketat.
“Sekarang beras Rp16 ribu, gaji suami tidak naik-naik. Dulu bisa masak tiga kali sehari, sekarang sering saya kombinasikan dengan singkong atau mie instan. Kalau tidak begitu, tidak cukup buat kebutuhan lainnya,” ungkap Siti.