Bisnis.com, CIREBON- Produksi padi di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat pada masa tanam (MT) pertama 2025 mengalami penurunan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Meski harga gabah melonjak tajam, dampaknya tak sepenuhnya menutupi kerugian yang dialami petani akibat cuaca ekstrem dan serangan hama.
Data resmi Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Cirebon mencatat total produksi gabah kering giling (GKG) selama semester pertama 2025 hanya mencapai 271.558 ton, menurun sekitar 13.900 ton dibanding produksi tahun lalu yang tercatat sebesar 285.465 ton.
Penurunan juga terjadi pada luas panen, dari 46.158 hektare di tahun 2024 menjadi 43.905 hektare tahun ini.
“Tren penurunan produksi ini cukup memprihatinkan. Hampir semua sentra produksi padi mengalami gangguan, utamanya akibat cuaca tak menentu dan hama yang menyerang secara sporadis,” kata Kepala Distan Cirebon, Deni Nurcahya, saat ditemui di kantor dinas, Jumat (29/8/2025).
Kondisi paling mencolok terjadi di Kecamatan Gegesik, yang dikenal sebagai lumbung padi Kabupaten Cirebon.
Produksi GKG di wilayah ini turun dari 30.504 ton pada MT pertama 2024 menjadi hanya 23.985 ton tahun ini, dengan luasan panen sekitar 5.430 hektare. Penurunan volume panen mencapai lebih dari 6.500 ton, atau setara 21%.
Baca Juga
Deni menyebutkan sejumlah petani di lapangan bahkan mengalami penurunan produksi hingga 50%. “Tidak semua terdampak parah, tapi data kami menunjukkan sekitar 5% petani mengalami gagal panen lokal. Secara umum penurunan rata-rata sekitar 30%,” ujarnya.
Hasil evaluasi Distan bersama Kementerian Pertanian mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utama penurunan adalah serangan hama, khususnya tikus, yang tidak terdeteksi sejak awal.
"Banyak padi yang seharusnya merunduk saat matang justru kembali tegak. Ini indikasi terganggunya proses pengisian bulir akibat serangan hama atau penyakit tanaman,” jelas Deni.
Ironisnya, harga gabah justru melonjak tajam di tengah penurunan produksi. Tahun ini, harga gabah mencapai Rp8.000 per kilogram, naik dari Rp5.000 per kilogram tahun lalu.
Kenaikan harga memang memberi ruang napas bagi petani, namun Deni menilai itu belum cukup menutupi kerugian mereka, terutama yang gagal panen sebagian besar lahannya.
“Harga gabah memang naik, tapi kalau hasil panen turun drastis, nilai total yang didapat petani tetap berkurang. Keuntungan relatif hanya bagi yang panennya tidak terlalu terdampak,” tegasnya.
Deni menyatakan situasi ini sebagai sinyal waspada menjelang masa tanam berikutnya. Selain potensi berkurangnya cadangan pangan daerah, kondisi ini memperlihatkan lemahnya sistem deteksi dini terhadap gangguan pertanian.
“Kami perlu meningkatkan pelatihan petani dalam menghadapi perubahan cuaca ekstrem dan serangan hama, serta memperkuat pengawasan lapangan,” kata Deni.
Penurunan produksi padi di Cirebon juga menunjukkan kerentanan sistem pertanian lokal terhadap faktor eksternal yang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya, seperti cuaca dan iklim.
Namun, minimnya kesiapsiagaan dan respons cepat dari pemerintah dinilai memperburuk dampak yang sebetulnya bisa diminimalisasi.
Sejumlah kelompok tani di Gegesik berharap Distan tidak hanya mengandalkan pendekatan pelatihan, tetapi juga menyuplai sarana pengendalian hama yang lebih efektif dan terjangkau.
“Kalau hama baru bisa diketahui saat panen sudah dekat, ya petani tidak bisa berbuat banyak. Kami butuh pendampingan lebih awal dan alat deteksi di tingkat desa,” kata Maman, seorang petani di Gegesik.