Bisnis.com, CIREBON - Perum Bulog Cabang Kantor Cirebon mengklaim sudah melakukan penyerapan beras sebanyak 38.000 ton hingga Kamis (27/3/2025).
Kepala Perum Bulog Cabang Cirebon Ramaijon Purba mengatakan rata-rata serapan harian mencapai 1.000 ton gabah dan 700 ton beras. Dengan tren ini, diperkirakan sebelum libur Lebaran 2025, total penyerapan akan menembus lebih dari 40.000 ton setara beras atau sekitar 80.000 ton setara gabah.
Pencapaian ini tidak terlepas dari berbagai strategi yang diterapkan Bulog Cirebon. Salah satunya adalah memperluas kemitraan dengan berbagai pihak guna mempercepat dan memastikan kualitas gabah serta beras yang diserap.
“Kami bekerja sama dengan 40 mitra pengolahan yang bertugas mengeringkan dan menggiling gabah menjadi beras, serta 90 mitra pengadaan yang memasok beras langsung ke Bulog. Sinergi ini menjadi faktor utama dalam keberhasilan penyerapan yang optimal,” jelas Ramaijon, Kamis (27/3/2025).
Selain itu, Bulog juga menggandeng TNI, terutama Babinsa, serta para penyuluh pertanian guna memastikan penyerapan berjalan lancar di lapangan.
Peran Babinsa dan penyuluh sangat krusial dalam menjembatani komunikasi antara Bulog dengan petani, sekaligus mengawasi agar harga yang diterima petani tetap sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Baca Juga
“Kami ingin memastikan petani mendapat harga yang layak dan sesuai dengan ketentuan pemerintah. Jangan sampai mereka dirugikan oleh tengkulak atau pihak yang ingin mengambil keuntungan di tengah panen raya ini,” tambahnya.
Ramaijon mengatakan peningkatan serapan ini dilakukan di tengah upaya Bulog menjaga stabilitas harga gabah dan beras di pasaran. Dengan penyerapan yang tinggi, Bulog berharap harga di tingkat petani tetap menguntungkan dan tidak jatuh terlalu rendah saat musim panen raya berlangsung.
Di sisi lain, pasokan beras yang mencukupi di gudang Bulog juga menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan nasional. Dengan stok yang terus bertambah, Bulog dapat mengintervensi pasar apabila terjadi lonjakan harga beras di kemudian hari.
“Peran Bulog tidak hanya sebatas menyerap hasil panen petani, tetapi juga menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan pasar. Dengan stok yang cukup, kami bisa melakukan operasi pasar jika harga beras mengalami kenaikan signifikan,” papar Ramaijon.
Menurutnya, penyerapan besar-besaran ini juga sebagai langkah antisipatif menjelang Ramadan dan Lebaran, di mana kebutuhan beras masyarakat cenderung meningkat. Dengan adanya stok yang memadai, Bulog memastikan harga tetap terkendali dan masyarakat tidak mengalami kelangkaan beras.
Meski mencatat rekor tertinggi, Bulog Cirebon tetap menghadapi beberapa tantangan dalam proses penyerapan. Salah satunya adalah kondisi cuaca yang tidak menentu, yang dapat mempengaruhi kualitas gabah yang masuk ke gudang Bulog.
Namun, pihaknya terus berupaya mengatasi kendala tersebut dengan memaksimalkan kapasitas pengeringan di unit pengolahan mitra Bulog. Selain itu, Bulog juga melakukan pengawasan ketat terhadap kualitas beras yang masuk ke gudang agar tetap memenuhi standar.
"Curah hujan yang tinggi di beberapa wilayah membuat kadar air dalam gabah lebih tinggi dari biasanya. Ini menjadi tantangan tersendiri dalam proses pengeringan sebelum penggilingan,” ungkapnya.
Ke depan, Bulog Cirebon menargetkan peningkatan serapan yang lebih besar lagi, khususnya dengan memperluas jaringan kemitraan hingga ke daerah-daerah yang sebelumnya belum terjangkau secara optimal.
“Kami ingin memastikan setiap petani, terutama yang berada di daerah terpencil, bisa merasakan manfaat dari kebijakan penyerapan ini. Oleh karena itu, kami terus meningkatkan kerja sama dengan mitra di lapangan,” ujar Ramaijon.